Sejarah Sepak Bola Wanita di Indonesia Hingga Sekarang

sepatu-futsal.com – Salah satu olahraga dengan peminat tertinggi tentu saja sepak bola. Olahraga ini tidak mengenal jenis kelamin dan usia, baik itu pria maupun wanita tetap dapat memainkannya di lapangan hijau. Sepak bola juga tidak sekedar menjadi olahraga pada umumnya, terbukti dengan banyak sekali turnamen yang digelar dan berskala internasional. 

Baiklah, mari kita mulai pembahasan mendalam tentang sejarah sepak bola wanita di Indonesia hingga sekarang. 

Mengenal Lebih Dalam Sejarah Sepak Bola Wanita di Indonesia 

Selain Indonesia, saat ini ada sebanyak 176 negara di dunia yang tercatat sudah memiliki tim sepak bola wanita. Meskipun saat ini, masih ada jurang pemisah yang cukup dalam terkait perbedaan jenis kelamin dari pemain sepak bola itu sendiri. Sungguh pemikiran yang kolot karena membanding-bandingkan antara feminitas dan maskulinitas.

Tidak ada alasan mengapa seorang wanita tidak diperbolehkan bermain sepak bola hanya karena olahraga tersebut masuk kategori full body contact. Di Indonesia sendiri sudah terbentuk tim nasional sepak wanita Indonesia yang bermarkas di Stadion Bung Karno. Tim yang dikelola oleh PSSI ini pertama kali bertanding di kejuaraan AFC Wanita pada tahun 1977 dan berhasil menduduki peringkat ke 4. 

Tahun lalu, PSSI sempat berencana menggelar turnamen sepak bola wanita pada bulan April 2020. Sayang sekali turnamen tersebut batal digelar karena terkendala pandemi Covid-19. Namun sejatinya, turnamen sepak bola wanita di Indonesia sudah pernah digelar pada tahun 2019, setahun sebelumnya. 

timnas sepakbola wanita indonesia

Berbagai kota besar di Indonesia juga turut meramaikan turnamen kesebelasan perempuan secara silih berganti. Dan dari masing-masing daerah tersebut juga terdapat beberapa tim sepak bola wanita yang menonjol. Diantaranya ada kesebelasan Putri Mataram dari Yogyakarta, dari Surabaya ada Putri Sakti dan Putri Setia, Putri Priangan dari Bandung, dari Jakarta ada Buana Putri, peserta Putri Pardedetex dari Medan.

Dari kesebelasan putri yang menonjol tersebut, Putri Priangan adalah yang tim sepak bola wanita tertua dan terus bertahan hingga sekarang. Kesebelasan ini mulai menunjukkan kemampuan nya di lapangan hijau sejak tahun 1969. 

Baca Juga : Sejarah Apparel Timnas Futsal Indonesia

Kemampuan Tim Sepak Bola Wanita di Lapangan Hijau Patut Diacungi Jempol

Siapa bilang hanya tim sepak bola pria saja yang bisa dengan lihai menggiring dan menendang bola di lapangan hijau. Sebab kemampuan kesebelasan wanita juga tidak dapat diremehkan, meskipun ruang bertanding sedikit lebih kecil. Sayangnya, dulu turnamen sepak bola wanita yang digelar di Indonesia hanya sebatas pertandingan antara provinsi.

Masih belum ada liga bertaraf nasional yang digelar, itu saja digelar hanya pada Hari Kartini setiap bulan April. Seperti yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 1979. Di tahun tersebut, ada sebanyak 30 klub sepak bola yang turut berpartisipasi dalam Turnamen Hari Kartini. Selain Yogyakarta, sejumlah kota lain di Indonesia juga ikut memeriahkan hari tersebut dengan memasukkan pertandingan sepak bola wanita dalam agendanya. Meskipun pada dasarnya, tidak ada dalam ajaran emansipasi RA Kartini tentang bermain sepak bola. 

Mulai dari turnamen tersebut juga, pertandingan sepak bola wanita kemudian menjadi semacam rutinitas tahunan yang selalu digelar perayaan itu.

Mengelola Klub Sepak Bola Wanita Merupakan Tantangan Bagi Setiap Orang

Menurut pernyataan resmi dari J. Hutapea, salah satu pendiri dan pengelola klub sepak bola wanita di Medan. Ia mengatakan bahwa mengelola klub sepak bola wanita merupakan tantangan yang cukup sulit ditaklukkan setiap orang, sebab ada banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan klub tersebut bubar di tengah jalan. Misalnya, sudah berumah tangga, pindah wilayah domisili dan lain sebagainya. 

Klub sepak bola yang tersisa di Medan juga hanya Putri Pardedetex yang sekarang tidak begitu giat bertanding karena tidak ada lawan. Begitu pula di beberapa wilayah Indonesia lainnya, seperti Surabaya yang memiliki kesebelasan Putri Sakti. Untuk mencari lawan bertanding saja harus mencari sampai daerah Blitar dan Banyuwangi, belum lagi ada yang tidak mau lagi ikut latihan karena asyik berpacaran atau sudah berkeluarga. Inilah masalah yang sering dikeluhkan para pelatih tim sepak bola wanita di Indonesia.

Masalah yang jauh lebih rumit juga terjadi pada tim di Tasikmalaya. Untuk boleh tidaknya kota tersebut menggelar pertandingan sepak bola, para anggota DPRD harus bersidang terlebih dahulu. Bahkan tidak sedikit juga kota-kota di Indonesia yang melarang pertandingan sepak bola wanita, seperti Ciamis, Cianjur dan Banten.

Lalu, Bagaimana Langkah yang Diambil PSSI Saat Ini?

Perkembangan sepak bola wanita di Indonesia sebenarnya cukup berpotensi, meskipun tidak seperti tim sepak bola pria. PSSI yang juga sudah melihat potensi tersebut mulai membuat gagasan untuk membentuk Galatama khusus perempuan. Meskipun hal ini masih sebatas gagasan saja, semoga PSSI segera melaksanakannya. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan jika tim sepak bola wanita di Indonesia akan mengalami perkembangan yang baik.